Kemajuan teknologi memberikan berbagai macam akibat terhadap kehidupan manusia, salah satunya adalah kemunculan media umum yang tidak jarang memicu persaingan antar individu. Orang getol membandingkan banyak sekali hal, misalnya berasal segi penampilan fisik, harta, bahkan perkembangan anak. “Si A anaknya kok penurut ya?”, “Si B kok anaknya selalu juara kelas ya? Kenapa anakku tidak?”. Secara tak sadar perbandingan tadi memunculkan ekspektasi tersendiri pada diri orangtua.

Ekspektasi merupakan suatu pola pikir yang dipegang buat membantu orang berubah berasal waktu ke saat, asal usang ke baru dan asal hal yang tidak diketahui menjadi memahami di mana kesemua hal tersebut dapat membantu seseorang dalam menghadapi tuntutan di masa yang akan tiba. contoh ekspektasi yg orangtua umumnya miliki buat anaknya yang duduk pada perguruan tinggi:

Sifat antisipatif berasal ekspektasi bisa memudahkan individu dalam menjalani kehidupan apabila ekspektasi tersebut sinkron menggunakan kenyataan. tetapi demikian, orangtua acap kali memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk anaknya. Ekspektasi tadi menjadi tidak realistis sehingga membentuk orangtua sulit mengikuti keadaan terhadap perubahan yg terjadi kala anak beranjak dewasa. ada 3 jenis ekspektasi, yaitu:

Prediksi merupakan hal yang dianggap orangtua akan terjadi di masa remaja. contohnya orangtua mengatakan bahwa anaknya absolut akan terbuka mirip yang biasa dilakukannya sejak mungil. namun ketika bergerak remaja, seseorang cenderung lebih menjaga misteri serta kurang dekat dengan orangtuanya terkait adanya harapan buat berdikari. saat prediksinya tidak tercapai, orangtua akan kaget dan menjadi lebih cemas karena berkurangnya komunikasi menggunakan anak.

Ambisi adalah hal yg orangtua inginkan terjadi di masa remaja. misalnya, orangtua ingin anak terus mendapatkan nilai mengagumkan mirip ketika pada sekolah. namun pada masa remaja, poly yg mengalami penurunan prestasi akibat banyaknya perubahan yang terjadi. waktu ambisi tidak tercapai, poly orangtua yg menjadi kecewa terhadap anaknya.

kondisi artinya hal yang dipercaya orangtua wajib terjadi di masa remaja. contohnya orangtua ingin anak terus memberitahu seluruh hal yang terjadi pada kehidupan anak. namun di masa remaja, anak poly menyembunyikan isu agar lebih bebas. Anak menentukan buat tidak mengatakan keseluruhan cerita atau bahkan mengatakan bohong. waktu ekspektasi ini tidak tercapai, orangtua akan murka dan merasa dikhianati.

Orangtua akan merasa kaget, kecewa, murka , cemas, ataupun duka dengan perubahan yg terjadi pada remaja dimana hal tadi bisa memperburuk situasi yang remaha sedang alami. Penelitian oleh Agliata serta Renk (2008) mengatakan bahwa terkadang anak mempunyai disparitas persepsi terhadap ekspektasi orangtua mengenai akibat studinya. Anak yg merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi orangtua cenderung mempunyai rasa percaya diri rendah serta kurang mampu beradaptasi pada lingkungan.

kemudian, apa yg orangtua bisa lakukan? Orangtua bisa memiliki ekspektasi yang tidak terlalu tinggi ataupun tidak terlalu rendah apabila orangtua telah tahu syarat remaja. Orangtua tidak sekedar menyampaikan ekspektasi tetapi juga memberikan bimbingan dan pendampingan terhadap remaja melalui diskusi beserta. Komunikasi asertif menjadi kunci primer yg menjembatani anak dan orangtua sebagai akibatnya anak terhindar dari stres akibat galat mengartikan ekspektasi orangtua.