Bohong sering dikaitkan dengan perbuatan yang negatif dan berdosa. Tentunya tak ada orang yang mau disebut pembohong. Namun kenyataannya, kita semua pasti pernah melakukannya beberapa kali. Orang-orang mengatakan bahwa ia terpaksa berdusta demi menghindari konflik atau situasi yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, mungkin Anda pernah berdusta hanya karena tidak ingin dimarahi oleh orang tua. Situasi yang serupa bisa terjadi setelah Anda dewasa. Anda mungkin saja berbohong tentang harga barang yang Anda beli agar tidak memicu pertengkaran dengan pasangan.
Terkadang, orang-orang berdusta untuk menjaga perasaan orang lain. Anda mungkin akan berpura-pura menyukai masakan seorang teman walau sebenarnya Anda merasakan hal yang sebaliknya. Ini Anda lakukan supaya teman tersebut tidak merasa sakit hati. Namun, kebohongan juga bisa dilakukan dengan tujuan memanipulasi orang lain demi mendapatkan keuntungan. Mereka ingin mencoba mengendalikan situasi dan memberi pengaruh untuk mendapat reaksi yang diinginkan.
Ada kalanya, orang-orang ingin mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain atas sesuatu yang sebenarnya belum mereka miliki atau lakukan. Mereka pun berbohong mengenai pencapaian tersebut. Apapun alasannya, fakta adalah yang paling baik untuk didengar. Lagi pula, Anda harus berhati-hati. Sekali berbohong, bisa membuat Anda kembali mengulanginya di kemudian hari.
lalu mengapa orang berbohong berkali-kali?
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bagaimana orang-orang tidak relatif melakukan kebohongan hanya satu kali. dalam penelitian ini, para ahli melihat serta menganalisis otak seorang yg sedang berbohong. Penelitian ini melibatkan 80 relawan menggunakan membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan dari masing-masing peserta. Para ahli menyatakan bahwa kebiasaan berbohong tergantung menggunakan respons otak individu. ketika seorang berdusta, maka bagian otak yang paling aktif serta bekerja waktu itu merupakan amigdala. Amigdala merupakan area otak yang berperan krusial dalam mengatur emosi, perilaku, dan motivasi seorang. akibat penelitian meta-analisis lebih lanjut sang Current Opinion of Behavioral Science pula membagikan bahwa berbohong terkait menggunakan aktivasi di daerah dorsolateral serta ventrolateral korteks prefrontal, insula anterior, dan lobulus frontalis superior.






