Sekularisme menjadi istilah yg ramai digunakan dalam perdebatan terkait karikatur Nabi Muhammad SAW, penghilangan nyawa seseorang guru, dan pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron beberapa saat belakangan. Oktober lalu Samuel Paty, seorang guru bahasa serta sejarah, dipenggal sang seseorang remaja di jalanan pinggiran kota Paris. dia diklaim melecehkan Nabi Muhammad SAW dengan memberikan karikatur figur suci itu di kelas yg diajarnya.

Segera sesudah peristiwa ini, Macron menyatakan perilaku bahwa dia akan melindungi nilai-nilai sekuler Prancis asal radikalisme Islam. Pernyataan ini memicu reaksi keras berasal beberapa negara lebih banyak didominasi Muslim di semua dunia, termasuk Indonesia. Sekularisme – paham yg memisahkan institusi agama dari kehidupan bernegara – berkembang pada masa Renaissance atau era kesadaran Eropa beberapa abad silam.

Sebelum era pencerahan, Eropa di abad pertengahan mengebiri ilmu pengetahuan serta keterbukaan pemikiran sebab itu seluruh wajib tunduk pada bawah doktrin gereja serta kepercayaan . pada zaman Renaissance, waktu kebebasan berpikir serta rasionalitas insan sebagai keutamaan, sekularisme berkembang.

Beberapa pemikir beranggapan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran yang pesat yang menjadi penyebab utama munculnya sekularisme pada Eropa. Riset aku menunjukkan bahwa sekularisme memang bekerjasama erat menggunakan rasionalitas dan gaya berpikir analitis insan. tapi, terlalu cepat Jika kita menyimpulkan bahwa kemajuan pengetahuan serta pemikiranlah yg membentuk Eropa lebih sekuler.

pada riset lanjutan yg saya lakukan beserta beberapa kolega, kami menemukan jua bahwa tidak semua aspek-aspek sekularisme berkaitan menggunakan rasionalitas. Setidaknya terdapat dua penjelasan cara lain mengapa sekularisme berkembang di Eropa: kemajuan ekonomi dan terciptanya rasa aman rakyat.

Baca juga : Manfaat yoga untuk menjaga kesehatan mental