Setiap perbuatan absolut ada sebabnya. Begitu jua menggunakan pelakor yg mungkin melakukan aksi karena satu atau 2 hal di masa lalunya. berdasarkan psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., sikap merebut pasangan orang lain dapat dilandasi sang banyak faktor. salah satu penyebab pelakor merupakan karena adanya perasaan kompetitif menggunakan orang lain.
“Kompetitif pada bidang-bidang eksklusif memang baik. akan tetapi jika kompetitif pada merebut pasangan orang lain, tidak boleh diikuti,” ujar Ikhsan. “menggunakan berhasil menerima pasangan orang lain, rasa percaya diri oleh pelaku meningkat. beliau akan merasa lebih hebat, dan merasa lebih dari segala sisi dari oleh korban,” dia menambahkan.
tidak hanya itu saja, seseorang yg getol menjadi pelakor juga mungkin membutuhkan afeksi yang tidak dihasilkan asal orang lain. Hanya saja, pelakor memiliki kontrol diri yg rendah. ketika dorongan buat memenuhi rasa afeksi itu ada, pelaku tidak mampu menilai norma yg terdapat. Pelaku juga merasa tidak bersalah karena tidak tahu tata cara yang baik mirip apa.
Apakah gemar Jadi Pelakor Termasuk Gangguan Mental?
Menanggapi pertanyaan ini, psikolog Ikhsan berkata bahwa tidak seluruh pelakor mampu dikatakan punya gangguan mental. Jika memang dilakukan sebab tidak sengaja serta sudah terbuai suasana, hal ini tidak bisa dikatakan menjadi gangguan mental.
namun, Jika merebut pasangan orang sudah dijadikan menjadi hobi, rutinitas, dan punya niatan buat menarik perhatian supaya viral, bisa jadi pelaku sudah gangguan kepribadian narsistik. Narsistik sendiri merupakan gangguan kepribadian di mana pelaku merasa dirinya lebih baik, lebih krusial, serta tidak peduli dengan orang lain serta lingkungan lebih kurang.
akan tetapi perlu diingat terlebih dahulu, tidak hanya wanita saja yg bisa menjadi pelakor. jua bisa melakukan hal yang sama. dari studi yang dipublikasikan pada Psychology Today, pada Amerika Selatan, Asia, Afrika, serta Eropa lebih sering mencoba merebut pasangan orang lain, ketimbang wanita. Bahkan, kondisi ini hanya dilakukan buat kesenangan pribadi tanpa melihat perasaan orang lain.
Bisakah norma Mencuri Pasangan Orang Dihindari?
Setiap kebiasaan yg buruk memang mampu diatasi asal ada kemauan dari pelaku. Jika pelakor telah menerima hukuman sosial berasal warga , kurang lebihnya pelaku akan merasa jera serta ingin merubah sikapnya. Hal yang sama juga dikatakan sang Ikhsan. Menurutnya, kebiasaan atau punya impian mencuri pasangan bisa ditekan. Caranya ialah menggunakan mencari tahu dulu kebutuhan yg sebenarnya dicari.
“Apakah pelaku membutuhkan afeksi, ekonomi, atau kebutuhan akan diakui? Ini harus dicari tahu dulu Asalnya. Nantinya bentuk kompensasi dalam pemenuhan kebutuhannya itu dilakukan dengan cara yg sempurna, bukan dengan mencuri pasangan orang lain,” ujar Ikhsan.
Bila memang pelaku membutuhkan afeksi, ada baiknya Bila mereka mencari kasih sayang berasal orang yang sempurna serta belum punya pasangan. Pelaku bisa membuka hati untuk orang lain melalui perangkat lunak pencarian jodoh, atau sekadar koneksi berasal sahabat. Bila memang yang diharapkan merupakan faktor ekonomi, bekerjalah sesuai bidang yg disukai. Bila memang pemasukan yang dihasilkan tidak relatif, coba cari dana lebih dari kerja freelance, magang, dan berbisnis.
Artikel Lainya : Cara menghadapi kemacetan jalan agar tidak stres






