“Too much of something is bad enough,” demikian dilantunkan sang gerombolan musik yg berjaya pada era 90-an, Spice Girls. Aneka hal di dunia ini memang baik Jika dikecap atau dilakukan secara berimbang. tetapi malangnya, tak semua orang mengamini nasihat tadi. banyak orang yang mengidam-idamkan kebahagiaan menjadi gong bepergian hayati. tidak sedikit orang yg menggunakan kacamata kuda ketika mengejar sesuatu yg mereka anggap bisa memuaskannya. ketika hal tadi tercapai, tidak sporadis beliau mencicipi emosi positif yang membuncah hingga-sampai menunjuk di destruksi buat diri sendiri. tidak cuma itu, ledakan kebahagiaan mampu jadi artinya gejala patologi.

June Gruber, Ph.D., asisten profesor Psikologi berasal Yale University, menulis pada Greater Good Magazine sejumlah mudarat yg bisa terjadi ketika seseorang merasakan kebahagiaan yg hiperbola. pada kadar yg wajar, kebahagiaan memang memompa kreativitas. namun, saat kebahagiaan yang dirasakan tidak terkontrol, hal ini justru membentuk seseorang kesulitan menyalurkan kreativitasnya. Gruber merogoh kasus spesifik mirip mania.

pada situs Psych Central, mania atau manic episode dideskripsikan menjadi syarat waktu seorang mengalami suasana hati serta penilaian diri yang membubung, hilangnya cita-cita tidur, keluarnya banyak pikiran pada sekejap, dan kesulitan serius. Orang pada keadaan mania pula mengalami peningkatan kegiatan berlandaskan gol serta tak jarang melakukan kegiatan-aktivitas yg menyenangkan di luar kebiasaan sehari-hari. Singkat istilah, mania mirip menggunakan perasaan euforia atau optimisme ekstrem. Orang yg mengalami hal ini merasa mereka berada di puncak dunia dan mampu melakukan apa pun yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. syarat mania bukanlah suatu penyakit psikologis tersendiri, namun beliau menjadi bagian asal gangguan bipolar yang artinya galat satu patologi. Sekilas, seperti tidak ada yang galat menggunakan pengalaman semacam ini. akan tetapi, di kembali hal-hal yg tampak positif tadi, ada dampak samping yg dapat menghambat.

Pertama, waktu suasana hati begitu baik, ia mempunyai kecenderungan membuat berbagai proyek dampak adanya luapan pandangan baru pada ketua. Malangnya, hal ini tidak melulu disertai perencanaan yang baik buat mewujudkannya. dia bisa jua menghabiskan sepanjang hari tanpa beristirahat sedikit pun untuk menuntaskan proyek-proyek tadi. tidak hanya lelah mental, kondisi fisik pun melemah karena kegiatan ekstrem mirip ini. Gruber jua memaparkan, ketika semangat orang senang begitu menggebu, ia berpotensi buat melakukan hal-hal berisiko tinggi. Konsumsi alkohol, narkotika, kuliner, dan kegiatan seksual berlebihan ialah segelintir hal berisiko yg potensial dilakukan. Begitu pun kegiatan berbelanja tanpa rem yang membuat jebol dompetnya.

Bahkan, dalam studi yang dilakukan Howard S. Friedman dkk., ditemukan risiko kematian lebih tinggi pada anak-anak usia sekolah yg tampak bahagia hiperbola. Ini dimungkinkan sang prilaku merogoh risiko tinggi yang sejalan menggunakan argumen Gruber. Seiring menggunakan pendapat bahwa kebahagiaan berlebih bisa menurunkan level kreativitas, Gruber melihat hal ini bisa berdampak terhadap kehidupan dan karier seorang. saat merasa dirinya sudah memenuhi target eksklusif, dia akan merasa malas buat mengembangkan diri di tempat kerja. keinginan untuk berkompetisi menggunakan rekan kerja lainnya pun berkurang.

Serangkaian studi terkait efek buruk terlalu senang di tempat kerja pun pernah dilansir Time. Chak Fu Lam asal Suffolk University menyatakan bahwa emosi positif yg sedang dialami seseorang menghasilkan dia merasa tidak perlu berinisiatif dan proaktif waktu bekerja. Survei 2013 yg dilakukan forum konsultasi Leadership IQ memberikan bahwa di lebih asal 40% perusahaan yang diteliti, pekerja berperforma rendah perusahaan menyatakan bahwa mereka bahagia serta merasa terikat menggunakan pekerjaannya. “Para pekerja berperforma rendah seringkali kali mengambil pekerjaan paling mudah sebab manajer mereka tidak meminta macam-macam kepadanya,” ungkap Mark Murphy, CEO Leadership IQ. Selama dapat bersenang-suka pada tempat kerja, orang-orang macam ini cenderung tidak ambil pusing apakah mereka sudah relatif menorehkan prestasi pada perusahaan atau mengembangkan aneka kemampuan yang berguna bagi diri sendiri kelak.

Baca Juga : Anak terlahir dari keluarga yang broken bisakah sukses