Daydreaming atau melamun kerap dilakukan oleh sebagian orang sebab disebut menenangkan. Padahal terdapat banyak hal negatif yg mendasarinya, galat satunya jenis gangguan bernama Maladaptive Daydreaming (MD). Beberapa faktor dapat menjadi pemicu gangguan mental ini, seperti kesepian, bosan, riwayat syok atau penyiksaan, hingga riwayat famili dengan gangguan kesehatan mental, seperti OCD.
menurut penelitian berasal tim psikolog Universitas Harvard, lebih banyak didominasi orang menghabiskan 46,9 % waktunya hanya buat melamun. Sebenarnya tak ada yg keliru berasal melamun. akan tetapi kalau dilakukan terlalu sering, tidak hanya berpotensi terkena gangguan MD saja akan tetapi juga mendatangkan hal negatif lainnya. kemudian apakah pengertian MD sebenarnya?
Pengertian Maladaptive Daydreming
Maladaptive Daydreaming adalah kondisi pada mana seseorang tak jarang melamun secara hiperbola hinga mengabaikan sekitarnya. konsep ini kali pertama diperkenalkan sang Eli Somer Ph.D, seorang profesor psikologi klinis pada University of Haifa, Israel di 2002. berdasarkan Somer, pengalaman menyakitkan atau trauma mampu memicu terjadinya MD. Selain itu, poly orang dengan MD akan simpel berada di syarat melamun sebagai akibatnya menyebabkan seorang menjadi tidak produktif serta mengalami gangguan ekstrim pada kehidupannya sehari-hari.
Orang yang melamun cenderung akan menyia-nyiakan waktunya buat melamunkan mimpi-mimpi yg luas serta akan terus berfantasi. sementara fantasi tadi hanya bersifat sementara dan justru tak diwujudkannya pada kehidupan konkret. lalu apa kebiasaan melamun yang bisa menunjuk pada Maladaptive Daydreaming ini? Berikut penjabarannya, seperti yg dikatakan oleh Eli Somer Ph.D dalam Medicaldaily






