Masa remaja merupakan satu fase terindah dalam kehidupan manusia. Begitu bagus. Ribuan, bahkan jutaan cerita mampu tercipta dan terus menempel pada setiap sel otak sepanjang saat. tetapi, terkadang seluruh keindahan itu justru terganggu dengan keluarnya intimidasi (selanjutnya kita sebut bully) yg kerap hadir di lingkungan bermasyarakat. Ya, engga terdapat aktivitas lain yg mereka senangi selain merendahkan dan menggeretak orang yg mereka anggap lemah. Akuilah, hal ini emang terdapat gaes.
Sekali jadi orang yg suka nge-bully, tetaplah pembully. dan dari sejumlah studi, para tukang bully itu sebenarnya punya penyakit jiwa loh, gaes. Engga percaya? mari kita liat penjelasannya yg udah Genmuda.com rangkum pada bawah ini.
Mereka terjangkit narsisisme
Singkatnya, narisisme ialah syarat psikologis yg bikin orang terlalu mencintai dirinya serta nganggep diri sendiri punya derajat jauh lebih tinggi dari orang lain. Kalo mereka ngeliat terdapat orang yang posting prestasi pada internet, bukannya ngasih pujian mereka malah nyinyir.
Udah gitu terdapat kecenderungan sadist
Bukan cuma narsis, para internet troll serta tukang bully pada umumnya tuh punya kesamaan sebagai sadist. Mereka ini sangat seneng kalo terdapat orang lain yg merasa kesusahan atau kesakitan. Hal itu disimpulin para peneliti Kanada, tahun 2014 kemudian.
Mampu jadi mereka psikopat
keliru satu ciri orang psikopat ialah sikap agresif. kondisi mental orang kayak gitu biasanya engga stabil. Mereka ini jua senang ngerasa jauh lebih tinggi derajatnya asal orang lain. wajar aja kalo orang pada akhirnya mereka sering banget jadi pelaku bullying di global online ataupun offline.
Atau, mungkin juga tergolong Machiavellianism?
terdapat yang tau istilah ini? Machiavellianism menurut harleytherapy.co.uk merupakan seorang yang terlalu fokus sama kepentingannya sendiri. Mereka engga ragu memanipulasi, menipu, atau menindas orang asal keinginannya tercapai.
Kemungkinan besar , mereka tersisihkan pada global nyata
Studi dari yang sama juga bilang kalo mereka yang tersisihkan di global konkret punya kesamaan jadi tukang bully di internet. “Mereka mungkin tidak akan berkomentar jelek terhadap orang secara offline, tapi pada internet lain ceritanya,” mirip dikutip DailyMail.co.uk, Januari 2016.






