sebanyak 87 jurnalis menerima training kedaruratan berasal prajurit Tentara Nasional Indonesia sebagai modal buat meliput di wilayah rawan. Bukan hanya sekedar menerima latihan fisik serta mental, para pewarta pun mendapat pelajaran disiplin dan mengenal bagaimana solidaritas sangat krusial pada ketika keadaan darurat.
“Priiiit! Priiit! Kumpul pada hitungan 10,” ujar para pelatih Kostrad Sanggabuana, Karawang, pada awal pelatihan.
Pewarta yg baru saja tiba terkaget-kaget menggunakan panggilan tersebut. seluruh yang mengenakan pakaian dan sepatu dinas lapangan (PDL) berlari-lari membawa barang-barangnya. Mereka yang terlambat, harus mau mendapatkan eksekusi. Baik push up juga jalan jongkok akhirnya sebagai kuliner sehari-hari bagi mereka yang melakukan kesalahan.
pada akhirnya, selama 3 hari pembinaan, pewarta biasa dengan hal tadi. training yang dilakukan secara semi militer tersebut bertujuan untuk melatih kedisplinan. tak sporadis pada tengah malam bunyi meriam dan tembakan membangunkan pewarta. Panggilan itu diklaim ‘alarm’ peringatan keadaan darurat.
“Ini merupakan modal, peluit dan bunyi. pelatihan mirip ini mengajarkan kedisplinan, mental, dan karakter. Ujntuk membuat keberanian. Pertama di-alarm, dikasih tahu merapat seluruh. usang kelamaan tuning, respect,” tutur Kopral Rosyidi (34), galat seseorang pelatih Kostrad Sanggabuana.
“saya lihat terdapat perubahan, jikalau ada tembakan, instingnya eksklusif menghilang, jadi naluri perang telah muncul, jika kemungkinan meliput ke medan perang, sudah terdapat sedikit kapital,” sambung laki-laki asal Cirebon itu.
Terlepas dari itu, pelajaran lain yg perlu dipetik artinya bagaimana pewarta menghargai sesama sahabat. saat makan pun pewarta dilatih secara militer. tempat makan pun memakai ompreng seperti prajurit. Lauk sengaja disiapkan sesuai jumlah pewarta yang ikut pembinaan. Awalnya beberapa masih seenaknya merogoh makanan. ada yg mengambil lauk lebih berasal satu sehingga teman pada bagian belakang tidak kebagian.
Hal tersebut mengajarkan bagaimana pada keadaan darurat, semua harus memikirkan rekan-rekannya. sesudah kejadian pertama, akhirnya para pewarta pun mengambil makan sinkron porsi masing-masing supaya tidak lagi ada yang tidak menerima lauk. “ketika pertama kaget sebab disuruh cepat-cepat. Akhirnya karena buru-buru ambil rendangnya jadi 2. Nggak sengaja soalnya buru-buru. Itu jadi pelajaran agar kita mikirin teman yang lainnya,” ujar Sucipto, seorang wartawan media cetak yang ikut pelatihan.
Mereka yg ambil lauk lebih asal satu pun akhirnya membagai jatah itu buat sahabat yang tidak kebagian. Pelajaran kesolidaritasan lain didapat saat berada di hutan. Pewarta saling membantu sahabat yang kesulitan. Bahu membahu menunaikan tugas dari pelatihan. sementara itu loyalitas yg tinggi juga terlihat Bila ada seorang melakukan kesalahan, maka seluruh juga menerima hukuman. Uniknya, tidak ada yang mengeluh. Pewarta justru tertawa-tawa waktu mengenang hukuman yang harus didapat.
“Semangat peserta sangat bagus, punya moril yang tinggi, loyalitas terhadap atasan, terhadap mereka dan lainnya sangat bagus. Apalagi kekompakan dan solidaritasnya sangat cantik. waktu kami memberikan arahan, mereka mau berubah, mau berbuat yang lebih baik, pada situ ada pujian. Seratus % berubah semua,” ucap komandan pembinaan medan, Lettu Agus Priyanto. “Terutama asal hal kerapihan sandang serta cara berkumpul. jua respect terhadap sahabat dan atasan. ketika bertemu dengan instruktur mereka selalu menyampaikan penghormatan serta salam. serta yg paling bagus adalah rasa senasib serta sepenanggungan teman-teman wartawan,” imbuhnya.
Agus sendiri mengaku poly melihat kelucuan pada tengah-tengah melatih pewarta. pelatihan ini menurutnya akan berguna kelak di saat-waktu khusus.
“yg seringkali terlihat lucu karena mereka tidak pernah menggunakan sepatu PDL waktu jalan kayak ada besi yang melekat pada kakinya, jadi jalannya kayak pincang-pincang nggak karuan. Lucu sekali. Sebenernya itu terdapat tekniknya,” kata pria berasal Purbalingga itu geli. pada training ini, pewarta belajar bagaimana cari menghindar Bila ada agresi. Selain itu juga materi survival buat bertahan hidup dalam keadaan yang sulit pada tengah hutan atau wilayah rawan. pelatih jua mengajarkan pewarta tentang keberanian dengan melakukan aktivitas caraka malam.
semua pewarta diminta mengelilingi hutan di malam hari tanpa terdapat penerangan, termasuk peserta perempuan . pada kegiatan itu, pewarta mengaplikasikan materi yang didapat asal pelatih sebelumnya. Beberapa hal ‘menyeramkan’ memang ditemukan, tetapi semua pewarta berhasil melewati ujian tadi.
“saat jurit malam, fokus itu perlu. ketika itu menyeramkan pula sebenarnya, akan tetapi kebetulan pas ketika itu aku kebelet buang air, jadi buru-buru jalan izin cepet hingga barak. Terus ketemu temen-temen yang nyasar jadi mampu bareng jua akhirnya,” cerita Syamsul, seseorang pewarta media online, mengenai pengalamannya.
tidak sedikit memang yang tersasar ketika cakra malam itu. Beruntung pelatih tetap berjaga pada hutan yang berada pada perbuktian Sanggabuana. Terlebih saat itu jua sedang ada pelatihan bagi pasukan intai tempur (taipur) Kostrad. Peserta taipur pun sedikit membantu memberi memahami jalan mana yang harus dilalui kepada pewarta yg salah jalan.
training kedaruratan wartawan dilakukan selama tiga hari. Ini ialah gelombang tiga jurnalis yg menerima training kedaruratan asal Tentara Nasional Indonesia. kegiatan yang rencananya akan rutin dilakukan tiap tahun ini sangat bermanfaat waktu pewarta meliput pada wilayah rawan. Meski latihan yang didapat relatif berat serta sangat menguras tenaga, pewarta merasa beruntung menerima pelatihan itu.
Artikel Terkait : dokter kejiwaan buka suara tentang fenomena pelihara spirit-doll masih waras






