Pandemi covid-19 yang merebak dan jumlah perkara harian yang terus semakin tinggi tidak dapat dipungkiri mengakibatkan banyak orang mengalami anxiety serta overthinking. Kecemasan serta kekhawatiran akan kemungkinan terpapar virus ini menyebabkan individu sering berpikir secara hiperbola terhadap kemungkinan jelek yang belum terjadi. berita tersebut menjadi galat satu topik yg menarik buat dibahas serta dikupas pada perspektif Islam melalui talkshow psikologi yang diselenggarakan oleh DEMA Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Departemen Keagamaan pada Sabtu, 07 juli 2021 yang dihadiri sebesar 230 peserta melalui software Zoom.
Talkshow ini dibuka dengan sambutan berasal Dekan Fakultas Psikologi sang mak Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si, koordinator DEMA F-Psikologi, Harris Munandar, serta koordinator Pelaksana program, Ana Nabila Firdaus serta menghadirkan 2 narasumber yang pakar di bidangnya, yaitu Dr. Layyinah, M.Si. yg adalah dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr. Ahmad Rusdi, M.A., S.I. yang artinya Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.
Anxiety ialah sebuah perasaan yg tak jarang dialami dalam kehidupan sehari-hari seperti rasa cemas ketika menghadapi sesuatu yang membahayakan. bunda Layyinah memberikan bahwa suatu kecemasan mampu menjadi abnormal Bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman. pada perspektif Islam, Al-Qur’an membahas kecemasan yang bisa ditemukan menggunakan beberapa istilah diantaranya khauf, dhaiq, halu’a serta jazu’a. Kecemasan pada Al-Qur’an dipandang menjadi sebuah manifestasi berasal rasa takut yang hiperbola pada masa yang akan datang yg belum terjadi, adanya kesempitan jiwa dan gelisah atau keluh kesah. Cara mengatasi kecemasan pada Islam dapat dilakukan menggunakan bersungguh-benar-benar dalam beriman kepada Allah SWT, beribadah mirip sholat, zikir, dan doa dan senantiasa berakhlak mulia.
Selanjutnya, topik mengenai anxiety berkaitan erat menggunakan overthinking. Pak Rusdi mengemukakan bahwa pada overthinking ada 3 hal yang mungking terjadi. Pertama, berpikir yg tidak perlu; ke 2, berpikir yang tidak tepat (tidak sesuai kenyataan); ketiga, berpikir yang terlalu banyak. Ketiganya ini adalah pilihan bukan aspek”. Berpikir ialah sebuah proses yang diharapkan dalam proses kognitif dan masuk akal jika sesuatu yang dipikirkan tadi memang memiliki urgensi eksklusif. Sebuah hal yang dipikirkan secara hiperbola dapat mengkategorikan Overthinking yang abnormalitas bila sesuatu yang dipikirkan tersebut sebenarnya tidak diharapkan.
Antusiasme para peserta masih berlanjut pada sesi tanya jawab. galat satu peserta bertanya tentang bagaimana cara mengatasi anxiety dan overthinking tentang masa depan yg tak sinkron denga apa yg diharapkan. Pak Rusdi memberikan bahwa solusinya yaitu menggunakan bertawakal (berusaha) terlepas dari hasilnya Allah SWT tahu apa yg terbaik buat hambanya. “Kita harus punya cara pikir bahwa apa yg nanti akan terjadi nanti akan ditampilkan sang Allah SWT”, sambungnya. lalu, Bu Layyinah menambahkan, “kecemasan merupakan sesuatu yg masuk akal tetapi tak sebagai sesuatu yang masuk akal waktu kita tidak mempersiapkan, kita tak mendapatkan, dan kita tak berusaha”. Hal tersebut menjadikan sebuah dilema tidak mempunyai penyelesaian serta akan berlangsung terus menerus.
seorang muslim harus dapat menentukan prioritas tentang apa yg perlu dipikirkan dan tidak. Batasan tentang hal ini termaktub kentara pada sumber panduan umat Islam yaitu Al-Qur’an. oleh karena itu, kita wajib senantiasa menuntut ilmu supaya menciptakan kehidupan yang bahagia baik pada dunia maupun pada akhirat. Semoga berguna serta hingga jumpa di kegiatan Fakultas Psikologi UIN Jakarta berikutnya.
Artikel Lainya : Tips agar anak mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya






