Neuro psikolog dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ihshan Gumilar menegaskan lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) ialah penyakit mental. “LGBT adalah penyakit mental dan bukan disebabkan oleh faktor biologis atau bawaan lahir. absolut terdapat peristiwa (yg membuat seseorang menjadi LGBT, Red),” ujarnya saat forum Koordinasi anggota Gugus Tugas Pencegahan serta Penanganan Pornografi (GTP3) bertema Pornografi dan LGBT,Kementerian PPPA.
ia menyontohkan mempunyai mahasiswi yang ekonominya berkecukupan. namun, sayangnya mahasiswi ini memiliki famili broken home yang tak pernah mendengarkannya. peristiwa itu menimpa mahasiswi tersebut waktu ia duduk id kelas 2 Sekolah Dasar (Sekolah Dasar). tetapi, perempuan itu akhirnya merasakan afeksi bukan berasal keluarganya melainkan sahabat sekelas yg sesama wanita.
tidak hanya itu, mahasiswinya juga melihat adegan pornografi serta belajar observasi. Akhirnya mahasiswi ini melakukan adegan pornografi dengan sahabat sekelasnya yang perempuan . “Itu membentuk psikologis orang terstimulasi dan melakukannya bertahun-tahun,” ungkapnya.
beliau menegaskan, LGBT disebabkan oleh multifaktor. pada antaranya mirip famili serta mengakses pornografi. Bila otak seseorang terlalu tak jarang mengakses pornografi utamanya korelasi seksual sesama jenis, dia mengatakan, maka otak bisa mengikutinya. Ini sebab sifat otak yang fleksibel seperti plastik. Ini ditambah media sosial (medsos) yg sebagai pintu masuk primer anak terjangkit LGBT.
beliau menambahkan, pada agama apapun kentara melarang defleksi seksual ini. ia menegaskan jika ada yg berkata tuhan yg menyebut orang menjadi LGBT, maka tidak mungkin di satu sisi tuhan membangun azab atau eksekusi buat manusia yg melakukan praktek itu. ia menyebut pihak asing termasuk PBB yg ingin menghambat Indonesia menggunakan menyatakan LGBT bukanlah gangguan kejiwaaan sejak 1973.
Padahal, kata dia, yang akan terjadi itu didapat bukan dari observasi melainkan dari yang akan terjadi voting mengenai homoseksual dan hasilnya dimuat di Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) edisi kelima. pada buku ini, LGBT dihilangkan pada DSM. Celakanya, kata dia, kitab ini dijadikan panutan para psikolog dunia. untuk itu, ia menegaskan LGBT bisa disembuhkan. asal penderitanya berkonsultasi dan berobat di psikolog yang benar serta tak mendukung LGBT.
sementara itu,Direktur Pencegahan dan Pengendalian masalah Kesehatan Jiwa serta Napza (Dit P2MKJN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Fidiansyah mengaku, Indonesia telah memiliki sendiri buku pedoman kesehatan jiwa Indonesia. “dilema LGBT merupakan duduk perkara kesehatan jiwa dan tegas dinyatakan (di kitab pedoman kesehatan jiwa Indonesia),” ujarnya. untuk itu, dia meminta seluruh pihak terus merapatkan barisan melawan LGBT,.
Artikel Lainnya : ini 4 alasan orang suka ngomongin seseorang di belakang






