Panseksual Menurut Psikologi adalah kata sifat yang digunakan untuk mengidentifikasi orang yang merasakan ketertarikan seksual kepada orang lain.

Panseksual Menurut Psikologi Emily Lenning, dikutip dari Psychology Today, Panseksual adalah ketertarikan terhadap seseorang, terlepas dari jenis kelamin, gender, ataupun orientasi seksualnya.

Bentuk seksualitas manusia ini disebut panseksualitas. Panseksualitas tidak boleh disamakan dengan panseksualisme, istilah yang diciptakan oleh Sigmund Freud untuk merujuk pada kecenderungan menemukan motivasi seksual dalam semua jenis perilaku. 

Kata panseksual terbentuk dari prefiks pan yang berarti ‘segalanya’, dan kata sifat sexual yang artinya ‘berhubungan dengan seks’.

Panseksual tertarik secara seksual pada semua jenis orang, terlepas dari jenis kelamin yang mereka identifikasi: heteroseksual, homoseksual, biseksual, transeksual, interseks, hermafrodit, dll.

Dengan kata lain, seorang panseksual tidak membatasi seksualitasnya pada lawan jenis, sesama jenis, atau orientasi seksual biner. Artinya, dia tertarik pada beberapa jenis kelamin serta berbagai identitas gender, yang menyiratkan perhatian yang lebih besar pada kualitas orang itu sendiri.

Dalam hal itu terdapat perbedaan sehubungan dengan bentuk-bentuk seksualitas manusia lainnya. Misalnya, seorang heteroseksual tertarik pada lawan jenis. Seorang homoseksual tertarik pada seseorang yang berjenis kelamin sama, dan seorang biseksual tertarik pada pria dan wanita.

Panseksual merupakan orientasi seksual yang berbeda dari biseksualitas. Seorang biseksual hanya tertarik pada dua jenis gender, yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan seorang panseksual melihat bahwa gender adalah spektrum yang sangat luas, tidak bisa dibatasi jadi laki-laki dan perempuan saja.

Karena itu, seorang panseksual mampu merasakan ketertarikan seksual dan romantis pada setiap identitas dalam spektrum gender tersebut. Baik itu transgender, orang genderqueer (tidak merasa bahwa dirinya laki-laki atau perempuan), dan lainnya. 

Ketertarikan seorang panseksual terhadap orang lain tanpa memerdulikan jenis kelamin dan gender juga kerap menjadi bahan perbincangan orang lain. Seringnya, seorang panseksual dianggap sebagai “tukang selingkuh” karena ketertarikannya pada hampir setiap orang. Padahal, seorang panseksual pun tetap bisa berkomitmen pada satu orang saja, seperti laiknya seorang heteroseksual dan homoseksual.

Setiap orang tentu memiliki jati dirinya masing-masing, termasuk ke mana arah hasrat seksual mereka. Inilah mengapa sangat penting bagi setiap orang untuk mencari jati dirinya dan mengakui apa yang menjadi ketertarikan seksualnya. Memang tidak mudah untuk mengakui adanya orientasi seksual yang dianggap tidak umum oleh lingkungan sosial. Namun, berani untuk jujur pada diri sendiri akan menghindarkan seorang panseksual dari bahaya stres dan depresi berkepanjangan