Bait syair ini secara makna memiliki implikasi yang sangat pada terutama terletak pada baris bait: “pelaksanaan istilah-istilah”. Syair ini hendak memberitahukan dan memberikan kepada kita bahwa setiap istilah yg diucapkan seorang tidaklah hadir menyendiri dalam sebuah ruang kosong, namun ia hadir pada sebuah ruang aktivitas pada mana terjadi proses dialogis di dalamnya.

oleh sebab itu, setiap kata yg diucapkan seorang, tentu memiliki implikasi retorik, karena saat hadir pada sebuah ruang publik, kata-kata yang diucapkan bisa bernilai baik atau buruk ; sahih atau keliru; amanah atau dusta bahkan kita dapat menilai berkualitaskah kata-istilah itu atau tidak.

Berbicara sejatinya artinya hasil asal serangkaian aktivitas berpikir seorang yang kemudian dituangkan pada medium lisan ataupun goresan pena. dalam medium mulut, berbicara biasanya berkaitan sedikit banyak menggunakan suasana batin atau psikologis seorang apakah dia senang, benci, merasa takut, atau stress sebagai akibatnya berdampak terhadap setiap kata yg diucapkannya terlebih Jika dihadirkan pada ruang publik. ketika berbicara, selalu terdapat dimensi internal serta eksternal.

Dimensi internal adalah situasi psikologis dan intensi atau kehendak pikir, sedangkan dimensi eksternal merupakan tindakan menafsirkan serta mengekspresikan kehendak batin pada wujud lahir, yaitu istilah-kata yang ditujukan kepada “orang lain”.

Berbicara berarti melibatkan pikiran, emosi atau tindakan lain yang melingkupinya. mengolah pikiran, emosi dan tindakan bisa memilih output bahasa yang digunakan. sempurna seperti apa yg dikatakan Imam al-Ghazali, bahwa ‘seseorang bisa selamat ketika menjaga apa yang keluar asal ucapannya’ (salamatul insaan fi hifdzillisaan).

Belakangan, kita disuguhkan oleh media, sebuah tontonan “perang” retorika yang dilakukan sementara elite di negeri ini. Mereka berbicara serta lebih luasnya berbahasa sudah tidak lagi dilandasi kegiatan berpikir, tetapi hanya berlandaskan suasana batin serta psikologis sehingga kata per istilah yang dilontarkan tidak lagi memperjuangkan esensi kebenaran namun justru menunjukkan rasa kebencian, kekhawatiran atau pada tekanan sehingga mereduksi bahasa dan maknanya sendiri.

Padahal, “bahasa membagikan kualitas pembicara”, sehingga semakin baik bahasa yg digunakan semakin baik pula kualitas orang yang berbicara tadi. Tentu publik akan lebih bisa menilai serta membedakan sejauh mana kualitas seseorang saat berkomunikasi dalam ruang publik. Komunikasi tentu saja tidak hanya dalam bentuk lisan, tetapi mampu pula pada bentuk tulisan yg sering kita baca.

Belakangan ini, terdapat sementara pemimpin politik yg mengumbar kata-pungkasnya sebab mungkin dilandasi motif kebencian terhadap lawan politiknya, atau ada jua seseorang yg motifnya sebab memang “menyukai” seseorang atau klik-nya sebagai akibatnya kata-kata yang keluar tampak sebagai untaian istilah-istilah pembelaan yg terkadang dipaksakan. namun yg lebih parah, terdapat pula yg berkata-kata tapi tidak jelas motifnya apa, bisa motif kebencian, politis atau karena “dukungan” terhadap seseorang.

mirip yg pernah kita saksikan pada media bahwa ada pemimpin politik atau elite yang melakukan “nazar politik”. aku menyebut nazar politik karena umumnya kata-istilah ini paling sering diucapkan politisi dan memiliki implikasi politis. Entah mungkin dalam rangka counter terhadap “kekuatan” politik lain yang disebut sebagai tantangan bagi beliau atau bisa saja karena beban psikologis yg sedang dialaminya.

Publik kemudian dapat menilai waktu “pelaksana kata-istilah” pada nazar politik tadi tidak bisa dibuktikan. implikasi lebih lanjut dari sebuah nazar politik merupakan bahwa berbicara memiliki landasan moral serta eskatologis, di mana seseorang yg berbohong atau bersumpah palsu adalah tindakan kejahatan dan tergolong dosa.

Baca Juga : Inilah manfaat mainan anak untuk perkembangan otak si kecil