Boneka arwah atau spirit doll belakangan sebagai tren pada kalangan artis Indonesia, termasuk desainer Ivan Gunawan yg mengadopsi serta merawat boneka arwah yang secara visual menyerupai bayi. Bahkan boneka arwah tersebut dirawat layaknya anak sendiri. kedua boneka arwah milik Ivan bernama Miracle Putra Gunawan dan Marvelous Putra Gunawan.
Tidak hanya Ivan Gunawan, sederet selebriti ternama lainnya mirip Ruben Onsu, Lucinta Luna, hingga Celine Evangelista jua memiliki boneka arwah. Momen kebersamaan para seleb beserta boneka arwah milik mereka pun diabadikan pada media umum serta sejumlah acara. lalu bagaimana pandangan asal sisi psikologis?
Pandangan Psikolog perihal Tren Adopsi Boneka Arwah
Psikolog sekaligus Penulis buku, dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Efnie Indrianie berkata tidak terdapat yang galat dengan mengadopsi atau merawat boneka arwah. sebab, secara fungsi biologis otak manusia memang mempunyai Pemikiran untuk merawat dan mencintai sesuatu, termasuk benda-benda mirip boneka arwah.
“Secara fungsi biologis, area yg mengendalikan emosi serta perasaan artinya bagian yg relatif luas di fungsi kerja otak manusia. Itu juga yg sebagai dasar pada manusia, mereka memang mempunyai insting buat menyayangi, mengasihi, serta terikat secara emosional antara satu dengan yang lain,” ujar Efnie ketika dihubungi pribadi oleh FIMELA, Rabu.
Disamping itu, istilah Efnie, otak manusia pula menyukai sesuatu hal yg baru. karena hal yang baru itu mempunyai suatu ketergugahan sendiri pada fungsi otak. “contohnya ada tren baru, otak itu semangat buat memulai sesuatu yang baru. Jadi (tren spirit doll) artinya kombinasi berasal ke 2 hal ini, yaitu senang merawat serta memulai hal baru,” ujarnya.
Selain itu ketika seorang mengadopsi boneka arwah, area emosi dan perasaan di otak terstimulasi. Hal ini yang membuat seseorang menghasilkan emotional attachment dengan boneka arwah tersebut dan merawatnya.
Lebih lanjut, Efnie mengungkapkan alasan seseorang menentukan merawat boneka arwah dibandingkan anak merupakan dikarenakan soal komitmen. tidak sinkron dengan merawat anak, boneka arwah tidak memiliki komitmen jangka panjang. “Komitmen jangka panjang tak jarang diterjemahkan otak sebagai sesuatu yg berat. dalam otak, ini diterjemahkan jua menjadi ancaman. seperti yang diketahui, orangtua kerapkali mengeluhkan saat parenting umumnya berat serta melelahkan, nah ini yg diterjemahkan otak,”
“ad interim boneka arwah, visualnya mirip insan, diklaim ada soul (arwah) pada dalamnya, tetapi beliau pada tanda kutip tidak demanding. Meski bagi beberapa orang-orang yang memiliki kekuatan spiritualitas eksklusif menganggap bahwa boneka ini tetap memiliki keinginan, tetapi permanen saja demandingnya tidak dinamis seperti anak. Jadi ini berkaitan menggunakan pengasuhan yg lebih ringan,” lanjutnya.
tak hanya itu, dari Efnie hal-hal yg berkaitan dengan spiritualitas tidak pernah tanggal asal sistem berpikir manusia. Bahkan berdasarkan studi, hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas sudah tertanam di DNA manusia.
“Jadi jika ada yang berkata boneka ini di dalamnya memiliki soul atau arwah tertentu, ini secara tidak pribadi mengunggah alam bawah sadar insan. sebagai akibatnya dorongan buat emotional attachment dan alam bawa sadar itu terintegrasi jadi satu. Ditambah, fenomena ini di populerkan sang orang-orang yang mempunyai influence (dampak) relatif akbar pada publik, jadi konformitasnya tinggi,” terperinci Efnie.
Artikel Terkait : Fenomena Spirit Doll: Antara Tren dan Bahaya Terjerembap Halusinasi






