Menghadapi si susah dikendalikan perlu cara spesifik. benar , anak-anak prasekolah sebenarnya telah diajarkan tentang aturan serta adat–tata cara secara konsisten dan mereka sedikit banyak sudah memahaminya. namun ingat, penanaman aturan serta adat bukanlah proses yang singkat. ada saja kendala yg menghadang, termasuk ngeyel dan membangkang buat tidak mematuhi hukum/ istiadat yg ada. Berikut pola asuh yg sempurna buat mengatasinya:
Bersikap hening serta introspeksi.
tidak perlu menanggapi perilaku menentang anak dengan spontan, reaktif, dan tergesa-gesa. Bersikaplah damai dalam menghadapinya. Pahami latar belakang yang mengakibatkan anak membangkang dan kondisi psikologis serta tugas perkembangan anak usia ini. Orangtua perlu introspeksi terhadap sikap “tidak patuh” anak. Misal, inkosistensi, hukum terlalu kaku, konsekuensi berlebihan, kurang apresiasi, dan sebagainya.
Hindari melabel
tidak sedikit orangtua menjuluki anak yg kerap protes menggunakan “anak nakal, bandel, pembangkang” atau menyindirnya menggunakan istilah-kata tajam yang sesungguhnya dapat melukai perasaan anak. di waktu itu umumnya muncul pernyataan,“Maunya kamu ini apa sih, kok sama orangtua tak nurut? mampu-bisanya engkau menentang orangtua.” istilah-istilah seperti ini bisa merenggangkan korelasi orangtua dengan anak.
Ciptakan suasana menyenangkan.
Caranya dengan mengubah ucapan yg bernada perintah/paksaan sebagai sebuah “ajakan”. menggunakan bahasa ajakan yang halus, anak akan lebih mendengarkan serta suka melakukan apa yg sebagai keinginan orangtua. beliau pun merasa nyaman karena tidak merasa dipaksa. Cara yg lembut akan menghasilkan anak merasa orangtua mencintainya serta menduga dirinya menjadi seorang yang spesial . asal situ anak termotivasi melakukan yg terbaik buat orangtuanya.
Ajak anak berbicara
Bila anak merasa tidak diperhatikan, ajaklah beliau mengobrol. Posisikan sejajar, duduk bersama pada sofa atau di teras tempat tinggal , dengarkan apa pun topik yang ia bicarakan. Tanggapi dengan baik sehingga ia merasa diperhatikan kembali. Biasakan buat mengajak anak berdialog sejak mungil, meski perkembangan bahasanya masih terbatas. Umpama, anak menolak permintaan orangtua, tanyakan mengapa beliau tidak mau, pancing jawabannya lalu coba arahkan bagaimana seharusnya. Terlebih pada usia prasekolah, umumnya penolakan anak disertai menggunakan alasan, “saya enggak mau makan. Sayurnya pahit.”
Reward and punishment.
Penghargaan (reward) diberikan saat anak mau mendengarkan istilah-istilah orangtua serta melakukannya. Penghargaan tidak wajib bersifat fisik. Justru reward yg bersifat emosional (seperti pujian dan aktualisasi diri cinta asal orangtua) jauh lebih berarti buat anak. Penghargaan yg diberikan orangtua bisa menjadi awal pada membangun hubungan yg lebih baik antara orangtua dan anak. Akan halnya eksekusi, sebaiknya diubah sebagai konsekuensi negatif. Lakukan perundingan menggunakan anak tentang konsekuensi yang diterapkan Bila anak tidak mau mengikuti suatu hukum/tata cara. contoh konsekuensi merupakan hari Minggu si prasekolah tidak ikut pulang bertamasya, bermain lebih sebentar, atau tidak boleh bermain menggunakan mainan kesukaan anak dalam waktu eksklusif.






