Kerap kita mendengar fakta atau membaca isu mengenai aneka macam mantan artis cilik yg tumbuh menjadi remaja bermasalah atau selebritas dewasa pencari sensasi. fenomena itu begitu jamak; tidak hanya di kalangan pesohor Indonesia, akan tetapi jua dunia. Bila Anda googling daftar mantan seniman cilik yg tumbuh menjadi selebritas global menggunakan segudang dilema, setidaknya nama-nama seperti Macaulay Culkin, Justin Bieber, Amanda Bynes, Britney Spears, Shia LaBeouf, Lindsay Lohan, atau Miley Cyrus akan bermunculan.
Publik selalu dibikin heran, bagaimana mampu kebanyakan artis cilik menggunakan segudang prestasi serta pernah menginspirasi banyak anak lain tiba-datang berubah sebagai remaja atau orang dewasa bermasalah serta lekat dengan pemberitaan miring. Lantas, mengapa fenomena tersebut bisa terjadi? Apa yg mengakibatkan seseorang anak tumbuh menjadi remaja bermasalah, padahal semasa kecil beliau poly mendulang prestasi? Bagaimana cara mencegahnya agar tidak terjadi di anak Anda?
Sebenarnya perkara anak yg tumbuh menjadi remaja nakal tidak hanya rentan dialami seniman cilik, akan tetapi pada semua anak yg terpaksa atau dipaksa bekerja semenjak mungil. Kehilangan periode bermain ketika usia Sekolah Dasar bisa membuahkan fatal bagi tumbuh kembang anak. banyak orang tua masa sekarang yg beranggapan bahwa anak wajib mampu berdikari semenjak dini.
Hal tadi tidaklah galat, akan tetapi mendidik anak buat mandiri bukan berarti mengajarkan mereka buat bekerja mencari nafkah semenjak usianya masih hijau. pada Indonesia, kebanyakan anak terpaksa bekerja sebab dituntut menopang keluarganya yg kurang mampu. di negara-negara yg telah lebih maju, mirip Amerika perkumpulan, anak-anak digembleng buat berdikari menggunakan mencari pekerjaan sendiri semenjak kecil.
contohnya saja menjadi loper koran atau pengasuh paruh waktu. Mereka dididik untuk mencari pekerjaan sejak dini buat melatih kemandirian mental mereka. Hal tadi sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. namun, ilmuwan perilaku manusia asal Rand Corp. Rajeev Ramchand menggarisbawahi adanya potensi laten seseorang anak yg terbiasa bekerja sejak mungil buat tumbuh menjadi remaja susah dikendalikan, rentan terjerumus alkohol, narkoba, rokok, serta gemar berkelahi. Rajeev melakukan penelitian yg tercatat pada American Journal of Preventive Medicine wacana kaitan beban kerja di anak terhadap sikap negatif mereka semasa remaja atau dewasa.
“Kami paham bahwa bekerja memang mampu menyebabkan hal positif, akan tetapi jangan lupa bahwa ketika anak-anak bekerja, mereka lebih rentan terpapar hal-hal yang lebih buruk ,” ujarnya, dikutip dari Reuters. beliau menyurvei lima.147 anak setingkat kelas 5 SD dan orang tuanya pada Birmingham, Los Angeles, serta Houston. Riset dilakukan selama 2004-2006 dan didapati informasi bahwa kurang lebih 1 berasal 5 anak yg diteliti mengaku memiliki pekerjaan sampingan. Hasilnya, anak-anak yg bekerja 2 kali lipat memiliki kecenderungan sebagai alkoholik ketimbang temannya yang tidak bekerja.
Mereka pula tiga kali lipat lebih leluasa terpapar penyalahgunaan ganja, rokok, serta terserempet dilema hukum. tidak hanya itu, anak-anak yang bekerja sejak kecil 1,lima kali lipat lebih cenderung terlibat perkelahian, serta dua kali lipat lebih seringkali terlibat masalah permasalahan famili hingga kabur dari tempat tinggal . Rajeev berpendapat fenomena ‘good kids gone bad’ (anak baik-baik menjadi nakal) disebabkan karena orang tua mereka melonggarkan supervisi ketika mereka bekerja. Mereka tidak memahami apa yg dilakukan anak-anaknya saat bekerja.
Artikel lainya : Tips mendidik siswa yang memiliki kebutuhan khusus






